Menghentikan SMS Spam (dan Premium) dan Ganti Kartu 4G pada Operator XL

Keputusan mengganti nomor ponsel dan beralih operator memang bukan tanpa kekecewaan. Semenjak menggunakan nomor XL, setiap hari aku menerima SMS. Entah itu saat sedang konsentrasi bekerja, sedang makan, atau sedang bosan menunggu. Berharap-harap menerima SMS cem-ceman “Sudah makan belum say?” atau “Selamat pagi! Semangat ya!” tapi yang datang malah SMS “Tlp *5154* lsg dpt kisah nyata bertemu POCONG, KUNTIL dll.”

Ya tapi mau gimana lagi kalau cem-ceman-nya gak ada… 🙁

Belakangan bukan hanya SMS iklan spam, tapi juga XL mulai nagging meminta kartunya diganti ke 4G yang (katanya) gratis biaya upgrade.

Upgrade kartu ke 4G LTE

Berhubung saat itu aku sedang di Mall Puri Indah dan kebetulan lewat XL Center, aku putuskan mampir sejenak karena kata petugas di sana upgrade kartu ke 4G makan waktu sekitar 10 menit saja dan langsung aktif.

Betul saja, proses penggantian kartunya cepat. Kita hanya diminta menyebutkan nomor telepon, menyebutkan nama yang didaftarkan saat registrasi (ke 4444), dan membawa KTP untuk konfirmasi. Benar saja, prosesnya memakan waktu kira-kira 10 menit, kalau tidak dihitung waktu antrinya sekitar setengah jam.

Setelah itu diberikan kartu sim yang baru dan langsung bisa aktif digunakan. Paket data dan pulsa tetap aktif. Hanya daftar kontak dan SMS yang tersimpan di kartu saja yang tidak pindah. Kartu yang baru ini sudah disertai tiga potongan: standard mini SIM, micro SIM, dan nano SIM. Jadi tak perlu pusing lagi kalau mau ganti-ganti HP.

Soal biaya yang katanya gratis, memang tak dikenakan biaya, tapi mereka meminta kita mengisi pulsa minimal 25 ribu di sana. Jadi gratis bukan berarti tidak perlu keluar uang. Saat itu aku tidak bawa uang tunai, jadi aku memakai kartu debit untuk mengisi pulsanya. Dan kalau pakai kartu debit atau kredit, minimal pembayarannya adalah 50 ribu.

Jadi singkatnya aku mengeluarkan dana 50 ribu untuk upgrade kartu ke 4G. Walaupun dana tersebut berubah jadi pulsa juga sih.

Menghentikan SMS Spam (dan Premium)

Walaupun SMS yang sering masuk ini disebut sebagai SMS iklan, tidak potong pulsa, SMS operator, dan sebagainya, tapi bagiku ini tetap masuk dalam kategori spam. Karena keberadaannya tidak diinginkan, dan link-nya (atau nomor teleponnya) apabila diklik akan memotong pulsa.

Sudah dibuat kesal dengan SMS spam, mungkin ada juga yang tidak sengaja mengeklik/telepon nomor yang tercantum sehingga diikutsertakan dalam layanan SMS berlangganan seperti Genflix atau layanan pengubah suara yang memotong pulsa.

Kita bisa menghentikan SMS-SMS ini, baik yang berbayar maupun tidak, di XL Center. Karena kebetulan sedang di XL Center Mall Puri Indah, sekalianlah aku meminta agar SMS ini dihentikan, diblokir, opt-out, unreg atau apalah istilahnya yang dipakai, yang jelas aku tidak menerima SMS mengganggu ini.

Untuk yang tidak berada dekat Mall Puri Indah, daftar lengkap XL Center bisa dicek di situsnya XL.

Rupanya mereka hanya bisa melakukan unreg atau blokir per nomor pengirim. Untuk SMS premium atau berbayar mungkin tidak masalah karena nomor pengirimnya sama. Tapi untuk SMS spam iklan solusi ini sifatnya sementara. Karena nomor yang digunakan selalu berubah-ubah, artinya esok lusa kita masih bisa menerima lagi SMS sejenis kalau nomor yang mereka gunakan untuk mengirimkan itu baru.

Maka dari itu aku keluarkanlah daftar panjang nomor telepon yang aku minta untuk diblokir:

  • elevenia
  • GamerPinter
  • HiburanAsik
  • HiburanSeru
  • Info_Pintar
  • KONTEN_SERU
  • MegaXL
  • nightmaresi
  • 1602
  • 181818
  • 248
  • 28200
  • 5493
  • 7179
  • 777
  • 8558
  • 95969
  • 99514
  • 9951412
  • 99737
  • 99888

Tips: Walaupun rasanya amat terganggu dengan SMS ini. Tapi sebaiknya jangan mencurahkan kekesalan dan makian kepada staf customer service di XL Center. Karena mereka pastilah lelah menghadapi puluhan keluhan pelanggan setiap harinya. Lah itu kan memang tugas mereka? Tapi bukan merekalah yang membuat keputusan bisnisnya. Lagipula kita ingin agar masalah tuntas kan. Apalagi mereka harus menginput nomor telepon yang ingin diblokir ini satu-satu. Ini bukan salah customer service, tapi akibat para jajaran bos-bos pembuat keputusan tentunya.

Sejauh ini lumayan karena ponsel tidak berbunyi sembarang waktu. Kalaupun berbunyi, itu dari orang-orang yang dikenal.

Meskipun tetap saja bukan SMS dari cem-ceman 🙁

 

 

 

My Life in a Diagram

Today is the middle of January. All the hype and euforia of new year celebration has gone by now. Television and social media are no longer filled with “new year resolution” broadcasts. But you know that there is something more matter. Have you written down your own new year resolution?

Years after years it’s always been the same. Writing “new year, new me” stuffs and realizing the year after that so many things were not accomplished. Then another “I am commited this year” only to be dissapointed by the next year. Until I began lowering my expectations to the point of thinking “let’s not plan anything grand and just go with the flow.” And guess what happened? Surely as low as the expectation, so did the results. Underachieving and dissapointed. I learned it the hard way by a year that was “wasted”.

I know I am a dreamer. There are something big and meaningful goals to accomplish in life. Sometimes it is just too big that it seems impossible which wears me down. Sometimes there are too many that I am troubled to focus. But not doing anything is more frustrating because those goals become farther and so out of reach.

That’s why during past two years I have been keeping a list of what I want to accomplish in life, what I should do to reach those accomplishments, and refining it over and over again.

Until recently I found a better tool to keep track of it, by making life diagram. Kind of a flowchart. It helps me to breakdown a big, somewhat impossible, goal into a set of smaller goals. Then break those goals further into yet smaller goals. Those mini goals serves as milestones to let me know that I am progressing toward that big goal. Even more further, I take those milestones into action plans. It goes like this:

    This is just a simplified sample. My actual diagram is kind of messy.
This is just a simplified sample. My actual diagram is kind of messy.

Sometimes I just don’t know what to do with some of that milestones. I don’t know where to tie the string to. But it’s okay to leave it as is. As long as it is written, I know it is there. I can always go back to my diagram any time in my life to revise it. Even the connected graphs may get revised later with additions of milestones in between. Life is not perfect, it is a constant improvement.

To make sure they are not just an empty dreams, I rearrange those milestones into time groups. The timeline are divided to this year, +1, +5, +10 and so on. With this I could tell where I am at the moment, what I need to do, and why I am doing what I do.

Even if I jump over doing seemingly drastically unrelated activities, I could map how it relates to which goal. Like what is the relation between “get married” and “world tour”? Don’t be surprised. Even the “get married” node is related to “jogging” in my real diagram. Sometimes only I know the relationship between two nodes in the graph. But in case I forgot about it, the diagram helps me to recall.

Writing down life goals doesn’t always have to be done on new year. Therefore my “new year resolution” is not actually a new list of goals that I just write in a night. It’s actually a revision of the list I had since years ago, with added action plans.

Finally I could tie that dream far in the sky with a long long rope which I could hold. As high as a kite could fly, now I could roll the string round by round until I grab that kite. The wind may be strong, and the string may be rolling back, but I would never lose a grip to pull it back.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial: Bulan #2

Oke, ini merupakan postingan penutup dalam seri Hidup Sosial Tanpa Media Sosial. Sebuah tulisan refleksi sebagai kesimpulan setelah dua bulan menutup diri dari media sosial dan membuka diri untuk sosialisasi di dunia nyata.

Media sosial: antara butuh dan tidak butuh

Dua bulan ini membuat aku bisa memisahkan dua hal penting dari penggunaan media sosial: untuk selalu up-to-date akan segala hal yang diposting oleh “teman” di media sosial, dan untuk bisa tetap stay in touch dengan teman-teman yang tidak bisa kita jumpai di dunia nyata.

Aku butuh media sosial untuk bisa kontak dengan mereka yang tinggal di belahan lain bumi ini. Ada hubungan yang bisa dibangun dengan komunikasi personal via chatting. Ada juga interaksi yang bisa dibangun dengan berbagi cerita bersama via media sosial. Yang aku tidak butuh adalah News Feed, atau News Stream, atau apalah namanya itu. Yang selalu menarik perhatian dan memakan waktu berjam-jam untuk membaca dan me-scroll halaman berisi update mengenai berita terbaru, video lucu, meme, curhatan, foto makanan yang diposting oleh orang-orang yang tak ada habisnya. Belum lagi postingan sponsor alias iklan di sela-sela postingan lain.

Sialnya, semakin sering kita membuka media sosial, semakin terlena kita dengan news feed ini. Waktu habis memandangi media sosial tanpa benar-benar bersosialisasi. Karena aku tahu bahwa sumber pemborosan waktu adalah pada halaman news feed, maka lebih baik menghindari membuka halaman Home yang berisi news feed itu. Langsung saja menuju halaman profil, atau kunjungi profil teman. Sama persis seperti jaman aku pakai Friendster dulu.

Update terus

News feed di media sosial akan terus-menerus diperbarui, baik dibaca maupun tidak dibaca. Apalagi dengan ratusan “teman” yang terdaftar di profil kita, satu kali refresh halaman maka pof! postingan yang tadi terlewat sudah tak kelihatan lagi, jauh terdorong ke bawah halaman. Selama dua bulan tak memandangi news feed, aku menyadari ada pula update di dunia nyata sekitar kita yang terjadi terus-menerus, entah kita menyadarinya atau tidak.

Dalam dua bulan ini, hal-hal yang terjadi di sekitar aku di antaranya:

  • Musim hujan sudah tiba
  • Tahun baru!
  • Pergantian pengurus pengelola apartemen
  • Masa berlaku SIM sudah habis (dan diperpanjang)

Sedangkan untuk hal-hal yang terjadi pada orang-orang yang lebih dekat:

  • Krisis seperempat abad
  • Ada teman jadian
  • Seputar karir dan jalan hidup

Bagaimana dengan kabar-kabar yang lebih luas, seperti pencurian di bandara, kasus penunjukkan diri sendiri oleh SN, putusan pengadilan negeri Palembang yang memenangkan perusahaan yang didakwa sebagai pelaku pembakaran hutan? Oh tentu saja aku tak ketinggalan kabar seperti itu.

Media untuk berbagi kehidupan

Kini media sosial rasanya lebih banyak dipenuhi dengan satu atau beberapa jenis konten seperti ini:

  • Foto selfie
  • Foto makanan
  • Foto jalan-jalan (selfie juga)
  • Berita
  • Barang jualan
  • Spam, surat kaleng, atau MLM
  • Video atau gambar lucu
  • Undangan yang tidak spesifik
  • Iklan

Konten-konten di atas mungkin mendatangkan banyak like atau share, tapi tidak banyak membantu dalam meningkatkan hubungan yang akrab. Kalau ingin berbagi mengenai hal yang ada di pikiran, blog-lah tempatnya!

Ketimbang memposting konten untuk menarik perhatian orang kepada diri sendiri, rasanya jauh lebih bermakna bila memposting konten untuk memberi perhatian kepada orang lain, seperti:

  • Foto kegiatan bersama teman
  • Ucapan salam dan terima kasih
  • Hal-hal yang diminati bersama ditujukan spesifik kepada orang tertentu

Beberapa waktu lalu aku menghapus foto-foto dan video dari Facebook. Setelah lalu dua bulan, sebenarnya aku sedikit menyesal menghapusnya. Karena itu foto berisi kenangan yang dilakukan bersama-sama dengan teman. Aku masih punya fotonya di koleksi pribadi, tetapi kini sulit untuk berbagi kenangan dengan mengundang mereka datang ke rumah karena mereka berada di beda kota atau beda negara.

Hal di atas mungkin lebih spesifik untuk Facebook, karena tiap situs punya fungsinya masing-masing. Karena jejaring sosial Facebook menggunakan konsep hubungan mutual dan ditujukan sebagai media pertemanan, maka media ini lebih tepat untuk berteman.

Mungkin akan berbeda pada Instagram yang menggunakan konsep follower dan following. Jejaring sosial macam ini lebih seperti fan page. Kita tak perlu tahu siapa yang mengikuti update tentang kita. Ya, dan tentu saja postingan yang kita buat pun kurang lebih isinya seputar diri kita. Dan rasanya untuk hal ini wajar saja. Justru aneh dan agak menyeramkan kalau profil kita dipenuhi foto orang lain tanpa kita, apalagi kalau itu bukan artis atau orang terkenal.

Lain lagi dengan Twitter. Orang menyebutnya sebagai microblogging platform. Konsep jejaringnya serupa dengan Instagram, dengan follower tanpa harus follow back. Aku pribadi lebih suka menulis di blog ketimbang microblog (baca: Twitter), karena aku bisa leluasa mencurahkan isi pemikiran tanpa dibatasi 160 karakter, sekaligus mengasah kemampuan berbahasa.

Sosialisasi di dunia nyata

Ternyata tidak mudah dilakukan setelah lulus kuliah dan menginjak dunia kerja. Setiap orang kini punya kegiatannya masing-masing. Jadwal yang berbeda-beda ini membuat kesulitan ketika ingin merencanakan jalan, makan, atau main bareng teman-teman. Semakin banyak teman yang ingin dikumpulkan untuk jalan bersama, semakin kecil kemungkinan terlaksana. Di samping jadwal yang berbeda, tujuan dan arah setiap orang juga kini sudah berbeda. Lain halnya saat masa sekolah dulu, tujuan yang ditempuh kurang lebih sama: untuk belajar, untuk lulus, untuk refreshing dari tugas. Karena tujuan yang sedang ditempuhnya berbeda, maka ajakan untuk kopi darat mungkin saja ditolak karena mereka sedang mengejar hal lain yang lebih prioritas dalam hidupnya. Karena aku pun demikian.

Meskipun demikian, memberi waktu untuk berjumpa atau hangout di darat adalah hal yang layak untuk diusahakan.

Kesimpulan

Sekalipun tidak mustahil untuk memilih hidup tanpa media sosial sama sekali, tetapi keputusanku adalah untuk kembali memakai media sosial dengan membatasi fungsinya sebagai alat berkomunikasi ketimbang sebagai bagian besar dari kehidupan sosial.

Jangan Beritahu Bagaimana Caranya. Rahasia!

Pernah ada celotehan ketika mengobrol santai soal pekerjaan dan profesi. Seseorang dibayar mahal karena memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Misalnya kemampuan mendesain yang eye-catchy atau membuat UI yang sedap dipandang dan digunakan. Kalau ada yang bertanya, “Bagaimana sih buatnya?” jawab saja, “Sini mari aku buatkan.” Kalau kita jelaskan bagaimana cara membuatnya, nanti semua orang jadi bisa melakukannya. Lalu kita jadi tidak punya nilai tambah di dunia kerja. Karena keunggulan (dan gaji yang lebih besar) itu kan karena kita punya kemampuan di atas orang lain.

Layaknya sebuah perusahaan tidak mau membeberkan bagaimana sebuah produk dibuat karena itu adalah “rahasia perusahaan”. Kalau diketahui pihak lain maka takut produknya bisa dijiplak dan diedarkan dengan harga lebih murah. Lalu perusahaan kehilangan potensi pendapatannya karena muncul pesaing baru.

Benarkah demikian?

Kenyataannya, sekalipun kita bagikan ilmu yang kita punya kepada siapa saja, tidak semua orang mau belajar. Sedangkan orang-orang yang mau belajar pastilah akhirnya akan bisa juga, dengan maupun tanpa kita. Karena ilmu itu bukan rahasia kita seorang. Bagaimana dengan mereka yang menanyakan “bagaimana caranya”? Belum tentu juga mereka serius ingin belajar. Bisa jadi hanya basa-basi atau sekedar penasaran saja. Dari tidak bisa sampai jadi bisa perlu kegigihan dan tak cukup hanya dengan lima menit percakapan saja tanpa dilatih atau dipraktikkan.

Contoh lainnya. Dari pengalaman mengajar di bangku perkuliahan, hasilnya selalu bervariasi. Ada yang aktif, cepat tanggap, dan terlihat progress peningkatan dalam kemampuannya. Ada pula yang hingga akhir semester tak kunjung mengerti isi mata kuliah. Ada pula yang memang tak berminat dengan mata kuliah ini dan tampak puas dengan nilai yang secukupnya. Padahal mereka kan mahasiswa yang datang dengan niat untuk belajar. Ditambah lagi mata kuliah ini bersifat tutorial, alias diterangkan tahap demi tahap layaknya di bangku sekolah.

Kalau disimpulkan, alasan orang tidak ingin berbagi ilmu adalah karena takut orang lain jadi bisa dan kita kehilangkan nilai lebih, alias takut tersaingi. Padahal tidak semua orang mau belajar atau berminat dengan ilmu yang kita punya tersebut. Sedangkan mereka yang bisa “menyaingi” kemampuan kita pastilah bisa dengan sendirinya, dengan atau tanpa bantuan kita. Jadi alasan yang demikian tidak tepat.

Kalau kita mampu untuk membagikan ilmu, justru itulah sebuah nilai lebih yang tidak dimiliki semua orang. Karena motivasi berbagi ilmu adalah untuk menjadikan orang lain mengerti. Perkara apakah orang yang disampaikan ilmu itu akhirnya bisa atau tidak itu urusan lain. Tapi setidaknya kita bisa melihat mereka yang memang berminat dan berusaha untuk bisa sebagai patokan. Dan bagaimana cara kita menyusun cara penyampaian supaya mudah dimengerti itu bukan perkara mudah. Aku pun masih kesulitan mencari cara yang paling pas merangkai sesi penyampaian yang mudah dimengerti dan menyenangkan. Masih perlu banyak latihan dalam hal ini.

Kalau kamu punya kemampuan yang lebih (pasti ada!) namun masih enggan untuk berbagi, cobalah! Ketika menjumpai seseorang yang berhasil berkat ilmu yang pernah kita bagikan, itu merupakan sebuah kebahagiaan karena kita boleh berkontribusi bagi kehidupan orang lain. Bukankah alasan kita bekerja membanting tulang mencari nafkah itu untuk mendapat kebahagiaan?

Membuat Ruang untuk Meramu Koding

Awalnya hanya beberapa carik catatan kecil dalam blog pribadi. Sebagai seseorang yang banyak menggeluti dunia pemrograman, tentulah ada banyak cerita, penting maupun tak penting, yang bisa dibagikan bagi para pembaca.

Sejauh ini memang tidak banyak trik-trik pemrograman yang aku tulis di sini. Mengawali tahun yang baru, aku berencana untuk lebih sering menulis topik “Meramu Koding” baik itu PHP, JavaScript, maupun yang lainnya. Karena itulah aku membuat situs blog baru Meramu Koding yang lebih spesifik untuk menampung topik ini. Tulisan lama yang pernah aku tulis mengenai topik ini pun akan dipindahkan juga. Jadi para pembaca yang ingin membaca soal resep-resep koding yang pernah aku peroleh tak perlu repot mencari seutas jerami dalam tumpukan jarum di blog pribadi ini.

Mengapa mesti topik ini? Karena topik ini dirasa lebih bisa memberi manfaat langsung kepada banyak orang. Dan banyak orang itu merupakan bagian dari warga dunia. Dan menjadi pribadi yang bisa berkontribusi bagi dunia adalah salah satu panggilan hidup utama yang aku punya. Jadi kegiatan ini merupakan satu dari resolusi tahun baru 2016!

Berikut ini daftar tulisan blog yang telah dipindahkan ke Meramu Koding:

 

Perpanjangan SIM di Polres Cimahi

Lima tahun sejak terakhir kali aku membuat SIM, kini adalah waktunya untuk memperpanjang masa berlaku SIM! Aku memperpanjang SIM A dan C di Polres Cimahi. Prosedur perpanjangan SIM di Polres Cimahi transparan dan tanpa pungli.

Menurut poster yang dipajang, proses pengurusan perpanjangan SIM memakan waktu 15 menit. Benar saja, prosesnya 15 menit, kalau tanpa menghitung lamanya antri. Kalau ditambah waktu menunggu antrian, total waktu yang aku habiskan kira-kira satu setengah jam. Padahal aku tiba di lokasi pukul delapan lewat beberapa belas menit. Karena itu, datanglah sepagi mungkin sebelum layanan pengurusan SIM di Satlantas Polres Cimahi dibuka pada pukul 8:00.

Pemeriksaan kesehatan

Sebelum mendaftar, hal yang harus disiapkan adalah uang tunai 185.000 rupiah, map biru, pulpen hitam, fotokopi KTP, dan surat keterangan kesehatan. Untuk keterangan kesehatan, pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan langsung di Polres. Di Polres Cimahi, tempat pemeriksaan kesehatan terletak kira-kira 200 meter dari Polres. Berjalanlah ke pintu belakang di samping masjid, menyusuri jalan setapak ke arah kanan. Tempat pemeriksaan ada di samping Salon Haris. Biaya pemeriksaannya 30.000 rupiah. Untuk tinggi dan berat badan perlu diukur sendiri sebelum berangkat karena untuk dua keterangan ini diisi sendiri.

Berkas sampai saat ini:

  • Map biru, fotokopi KTP, surat keterangan kesehatan.

Pendaftaran perpanjangan SIM

Bangunan Satlantas cukup kecil sehingga mereka melokasikan loket pendaftaran di tenda depan pintu masuk Satlantas. Bawa seluruh berkas ke loket pendaftaran. Petugas akan menanyakan maksud pendaftaran, apakah untuk membuat SIM baru, memperpanjang, mutasi, dan sebagainya. Katakanlah ingin memperpanjang SIM. SIM A dan C bisa diperpanjang keduanya sekaligus dalam satu berkas, menghemat waktu untuk antri. Petugas akan meminta kita menyerahkan SIM asli yang lama dan KTP asli. Tunggu sampai dipanggil kembali oleh petugas.

Berkas sampai saat ini:

  • Map biru, fotokopi KTP, surat keterangan kesehatan,
  • SIM A dan C asli, KTP asli.

Mengisi formulir

Petugas pendaftaran akan memeriksa kelengkapan berkas. Setelah lengkap petugas akan menyisipkan formulir pendaftaran yang harus kita isi, blanko formulir hasil ujian yang akan diisi petugas, lalu menyerahkan kembali seluruh berkas kepada kita. Jika memperpanjang SIM A dan C sekaligus, maka formulir pendaftaran harus diisi dua kali, satu untuk masing-masing SIM.

Berkas sampai saat ini:

  • Map biru, fotokopi KTP, surat keterangan kesehatan,
  • SIM A dan C asli, KTP asli,
  • formulir pendaftaran SIM A dan SIM C, blanko formulir hasil ujian.

Pembayaran biaya administrasi

Setelah formulir diisi, biaya administrasi perlu dilunasi terlebih dahulu sebelum diproses. Semua pembayaran dilakukan hanya di loket Bank BRI yang terdapat di dalam Satlantas. Biaya yang harus dikeluarkan terpampang di papan pengumuman dan sudah tercetak di resi, sehingga kita tidak perlu khawatir akan pungli.

Golongan SIM Baru Perpanjangan
SIM A Perseorangan / Umum 120.000 80.000
SIM B.I Perseorangan / Umum 120.000 80.000
SIM B.II Perseorangan / Umum 120.000 80.000
SIM C 100.000 75.000

Serahkan berkas ke loket Bank BRI lalu kembali menunggu antrian sampai dipanggil untuk membayar. Total biaya yang dikeluarkan untuk perpanjangan SIM A dan C adalah 155.000 rupiah.

Berkas sampai saat ini:

  • Map biru, fotokopi KTP, surat keterangan kesehatan,
  • SIM A dan C asli, KTP asli,
  • formulir pendaftaran SIM A dan SIM C, blanko formulir hasil ujian,
  • resi bukti pembayaran lembar 2 (lembar 1 untuk arsip pribadi).

Proses perpanjangan

Seluruh berkas dibawa ke loket perpanjangan SIM di Loket 1. Selanjutnya kita tinggal duduk manis, baca buku, main HP, memperhatikan orang mondar-mandir, sampai nama kita dipanggil di Loket 6.

Setelah nama dipanggil, petugas Loket 6 akan menyerahkan kembali berkas kita yang sudah diproses dan memberikan nomor antrian untuk difoto. Berdiri sejenak, ambil berkas, lalu duduk lagi menunggu nomor antrian.

Setelah tahap ini KTP asli sudah bisa kita simpan. Jangan sampai tertinggal.

Berkas sampai saat ini:

  • Map biru, fotokopi KTP, surat keterangan kesehatan,
  • SIM A dan C asli,
  • formulir pendaftaran SIM A dan SIM C, formulir hasil ujian,
  • resi bukti pembayaran lembar 2,
  • nomor antri foto.

Foto!

Nomor antrian untuk perpanjangan SIM dimulai dengan huruf A. Saat dipanggil pergilah ke Loket 4A. Serahkan berkas dan petugas akan melakukan verifikasi nama, tanggal lahir, alamat, dan pekerjaan. Pastikan bahwa data yang terdaftar di sistem sudah benar.

Berikutnya kita akan diminta sampel tanda tangan, sidik ibu jari kanan, dan foto. Sekadar info, latar belakang yang digunakan saat aku foto di sana adalah warna biru, dan tidak tersedia cermin. Jadi monggo pilih baju yang matching dan perbaiki riasan dulu sebelum dipanggil untuk foto.

Sampai sejauh ini, berkas sudah sepenuhnya di tangan pihak Polres dan SIM akan dicetak.

Pencetakan dan pengambilan SIM

Setelah SIM selesai dicetak, petugas akan memanggil nama kita dari Loket 5. Ambil SIM, isi buku daftar hadir, lalu selesai dan boleh pulang!

It’s December 31st

It’s December 31st. The very last day like any other years, there are so many things going on through my mind. A roll of memories quickly rolling over the mind playing back past events I’ve been through. A list of achievements reached. A longer list of year-long goals yet to be met. A set of episodes embracing unexpected, unforgettable moments.

It’s December 31st. Isn’t it the day to stop for a moment to take a broader look at myself. Why am I who I am now? Am I happy with what I have become til this day? Does the stuffs I did adds values to my life?

It’s December 31st. It was not perfect. More goals might still be far far away despite a year-long marathon. But there’s no place for regret to slip in. It was an awesome year anyway. There were days of discovery. There were days of tiresome walks. There were days knowing that it’s worth all the efforts. Contentment is a perfect choice.

It’s December 31st. It’s time to prepare for great goodness to come.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial: Bulan #1

Akhirnya seri hidup sosial tanpa media sosial ini hampir melewati masa satu bulan. Dari selama ini ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan sejauh ini.

Hidup tanpa media sosial tidaklah mustahil.

Nyatanya, aku tidak kehilangan apapun oleh karena aku tidak buka Facebook atau Twitter. Malah aku merasa ketinggalan informasi terbaru tentang orang lain adalah hal yang bagus. Dengan begitu, aku bisa punya topik untuk berdialog dengan orang lain. Menanyakan bagaimana kabarnya karena aku memang tidak tahu, bukan pura-pura tidak tahu. Dan gestur yang ditampilkan pun akan terlihat sebagai orang yang tertarik dengan lawan bicaranya. Bukankah orang akan lebih merasa dihargai dengan sikap demikian? Ketimbang menanyakan kabar tapi bahasa tubuhnya menunjukkan tidak tertarik (karena sudah tahu kabarnya dari Facebook) sehingga kata-kata yang diucapkan jadi seperti basa basi saja.

Media sosial bukanlah media massa. Kepribadian setiap orang memang berbeda-beda. Mungkin ada orang yang suka apabila dirinya populer. Memposting sesuatu dan menerima ratusan jempol. Namun tidak demikian dengan aku. Ketimbang menyampaikan sesuatu kepada khalayak ramai, aku lebih peduli dengan siapa aku menyampaikan sesuatu, dan apakah itu sampai kepada mereka. Menyampaikan sesuatu kepada satu dua orang, sekalipun materinya sama, namun mereka boleh merasa dihargai karena kita menyampaikannya secara khusus bagi mereka. Demikian pula sebaliknya.

Apalah artinya 5000 teman di dunia maya tanpa kita tahu persis siapa yang benar-benar peduli dengan diri kita yang sesungguhnya diluar apa yang diunggah di media sosial. Dan apa pula artinya 5000 teman tanpa ada satu pun yang bisa kita berikan perhatian dan dukungan lebih dari sekedar ucapan “selamat” atau “semangat”.

Hidup tanpa media sosial adalah hidup di kenyataan.

Oke, tidak semua orang juga suka hidup dalam kenyataan. Tapi dengan mematikan layar ponsel (atau tab, atau laptop, atau apalah itu) dan menaruhnya di kantung, kita membuka diri untuk berinteraksi dengan sekitar kita.

Pengalamanku bereksperimen dengan ponsel adalah ketika mengheningkan cipta dengan layar ponsel menyala, maka orang-orang di sekitar akan cenderung mengabaikan keberadaan diri ini. Bisa jadi karena mereka menangkap sinyal bahwa kita tertutup dan tidak ingin diganggu. Tapi sebaliknya saat ponsel kita matikan dan dengan wajah santai memandang sekitar, maka terjadi lebih banyak interaksi sekalipun aku bukan yang memulai mengajak bicara. Sesekali orang yang lewat berlalu sambil melemparkan senyuman atau salam. Sesekali orang yang lebih ekstrovert menyempatkan diri untuk singgah dan berbincang-bincang. Kalau ada dua orang yang “celingukan” tanpa ponsel, maka besar peluang untuk mulai berbicara.

Dalam satu bulan terakhir ini highlight kegiatan aku tidak jauh dari rumah, SCBD, dan KCC. Mengerjakan proyek, belajar flute, gayageum, dan bahasa Korea, di samping menghadiri resepsi pernikahan. Meski demikian, aku bisa mengingat lebih banyak momen yang terjadi ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Dengan membatasi diri dari akses ke media sosial, maka aku dipaksa untuk meresapi momen demi momen sepenuhnya. Merekam momen-momen mempelai wanita memasuki ruangan dengan tarian, disambut oleh mempelai pria dengan wajah bahagia. Merekam lantunan lagu medley yang dipentaskan dengan merdu oleh Yerang di Depok. Merekam perjalanan sosial dalam sebuah bus, yang terasa seperti karyawisata anak sekolahan. Bahkan hal-hal yang kecil seperti makanan yang super pedas, jari teman yang luka saat main gayageum, nuna yang mencoba mengepang rambut, seorang teman yang menceritakan hari pertama turun salju di Korea setelah musim gugur, dan lain-lain. Sekalipun hanya beberapa foto yang diambil, namun satu foto pun akan cukup untuk memutar kembali cuplikan peristiwa yang terekam baik dalam benak di tahun-tahun mendatang.

Ketika kita melakukan perjalanan liburan atau suatu kegiatan, janganlah sibuk menceritakan betapa mengesankannya kegiatan yang kita lakukan, lalu lupa untuk menikmati kegiatan itu sendiri. Enjoy the moment. Biar kegiatan yang mengesankan itu tidak hanya muncul di timeline media sosial, mendapat ratusan like, lalu hilang ditelan bumi. Biar kesan itu terekam dengan baik dalam benak yang mampu kita kisahkan kembali kepada anak cucu kita.

Hidup tanpa media sosial adalah menjadi diri sendiri.

Ketika memposting sebuah foto atau status kita di media sosial dan mendapat banyak like, ada rasa senang atau bangga dalam diri kita. Namun sadar tidak sadar apabila terlalu banyak mengonsumsi media sosial, justru hal ini malah mempengaruhi penilaian kita terhadap harga diri sendiri. Harga diri ditentukan oleh jumlah like.

Lalu kita melihat-lihat postingan orang lain yang menampilkan fotonya selalu berada di negeri yang berbeda. Oh betapa asyiknya jadi dia bisa bepergian ke luar negeri. Sedangkan aku masih di sini, terbelenggu di kantor. Atau melihat orang yang memposting fotonya dengan bentuk tubuh yang ideal. Oh kapan ya aku bisa punya tubuh ideal begitu.

Akhirnya kita punya ekspektasi yang tidak rasional terhadap diri sendiri.

Tanpa media sosial, kita tidak terintimidasi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain, dipusingkan oleh apa yang dikomentari oleh orang lain (yang mungkin komentarnya saling bertentangan satu sama lain). Kita bisa bebas menjadi diri sendiri, berusaha menggapai mimpi yang kita miliki, dengan pergerakan yang sesuai dengan laju hidup kita.

Hidup tanpa media sosial tidak harus tanpa media sosial.

Setelah menjalani satu bulan tanpa media sosial, aku mulai mencurigai masalah utama dari media sosial yang banyak terjadi belakangan ini bukan pada media sosialnya, tetapi pada fitur timeline, home feed, atau sejenisnya. Yaitu halaman yang mengagregasi postingan terbaru dari teman-teman dalam jejaring sosial. Selain menghabiskan waktu, membuat kita kepo, mengurangi interaksi yang personal dengan orang yang bersangkutan, halaman agregasi ini juga diperparah dengan algoritma yang dibuat untuk memilah-milah postingan siapa dan bagaimana yang lebih banyak ditayangkan sesuai dengan kepribadian kita, atau lebih tepatnya sesuai dengan apa yang dianggap oleh program sesuai dengan kepribadian kita berdasarkan pemantauan terhadap gerak-gerik kita di media sosial.

Kalau kita masih ingin membuka media sosial, maka halaman yang paling perlu untuk dijauhi adalah halaman home atau news feed. Langsung saja buka halaman profil diri sendiri, atau kunjungi langsung halaman profil teman yang ingin kita lihat. Bukan hanya kita terbebas dari buang-buang waktu menelusuri seabreg postingan tidak relevan, tapi juga kita bisa melihat postingan dari teman tersebut seluruhnya, tanpa ada yang terfilter oleh sistem karena dianggap tidak relevan dengan kepribadian kita. Sebagai bonus, kita juga terbebas dari keharusan membaca sisipan posting sponsor di antara sejumlah postingan yang ada di home atau news feed.

Ada postingan teman yang kita suka? Katakan dengan kata-kata. Tulis di kolom komentar, “Aku suka ini.” Maka tanda like kita akan lebih bermakna. Mereka bisa tahu bahwa kita memang suka dengan postingan mereka. Juga memungkinkan untuk berlanjut menjadi dialog melalui kolom komentar. Aku sudah menerapkan pola ini sejak kira-kira setahun yang lalu. Dan hasilnya pertemanan jarak jauh melalui dunia maya menjadi lebih akrab.

Kala Bahasa Inggris Korea Bertemu Inggris Sunda

“Kak, punya Instagram gak?” tanya Reni.

“Instagram?” Minsu nampak agak kebingungan.

Reni kemudian menyodorkan ponselnya dengan aplikasi Instagram di layar.

“Oh Insthagræm. Ada.” segera Minsu mengetikkan nama akunnya di ponsel Reni.

 

Ketika berbicara menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Inggris, seringkali percakapan mandeg untuk beberapa saat. Bukan karena istilah itu asing, tapi justru karena istilah itu sudah begitu sering dipakai sehingga menjadi bagian dalam bahasa percakapan sehari-hari. Namun masing-masing mengucapkan dengan pengucapan yang berbeda.

Cerita lagi…

 

Minsu belum lama ini datang ke Jakarta untuk magang. Awalnya Minsu agak sulit membiasakan diri tinggal di Jakarta karena tidak bisa berbahasa Indonesia. Untungnya di tempatnya magang ada Reni yang sedikit bisa berbahasa Korea. Segera saja mereka menjadi akrab.

Saat sedang jalan menuju restoran, Minsu jadi teringat perlengkapan mandinya sudah hampir habis ketika melewati Hero. Dalam penerbangan memang tidak dibolehkan membawa cairan lebih dari 100ml. Jadi Minsu pun hanya membawa sedikit saja.

“Oh ya, Reni si, nanti setelah makan kita ke syuphomaket di sana yuk,” ajak Minsu.

“Syuphomakesin? Di mana?” Reni tidak ingat ada toko dengan nama seperti itu.

“Tadi di lantai LG. Ingin beli syampu.”

“Oh, supermarket. Oke deh kak.”

 

Oke, cerita di atas memang tidak begitu mandeg karena masing-masing bisa menemukan konteks yang dibicarakan. Istilah supermarket ini diserap dari bahasa Inggris dan sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia juga bahasa Korea. Nah tapi karena pengaruh logat dan keterbatasan suku kata, maka kata yang sama jadi sangat berbeda pelafalannya.

Penyerapan ke bahasa Indonesia lebih dipengaruhi oleh tulisan. Karena dalam bahasa Indonesia a dibaca a, e dibaca e, dan seterusnya, maka “supermarket” pun dibaca apa adanya menjadi “supermarket” (termasuk huruf ‘r’-nya pun dibunyikan).

Lain halnya ketika diserap ke dalam bahasa Korea. Karena bahasa Korea tidak menggunakan huruf latin, maka penyerapannya pun lebih dipengaruhi bunyi. Bunyi ‘r’ pada akhiran -er dan -ar dalam bahasa Inggris tidak begitu jelas seperti bahasa Indonesia. Maka hasilnya jadi 슈퍼마켓 “syuphŏmakhet”. Ditambah lagi akhiran ‘t’ biasa diserap menggunakan huruf ㅅ, yang mana bila diikuti oleh huruf vokal berubah bunyinya menjadi ‘s’.

Berikut ini catatan bedanya orang Indonesia (logat Sunda) dengan orang Korea ketika mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, sejauh yang aku perhatikan.

Suku kata Bunyi Contoh
Sunda Korea Inggris Sunda Korea
-u- a 어 (ŏ) running man ranning mén 런닝맨 (rŏnning mæn)
-a- a 애 (æ) instant instan 인스탠트 (insethænthe)
-oo- u 우 (u) good morning gut morning 굿 모닝 (gut moning)
-z- j/ts/s ㅈ (j) pizza pitsa 피자 (phija)
f- p ㅍ (ph) Facebook pésbuk 페이스북 (phéisebuk)
-esse is ㅣ즈 (ijeu) cheese cis 치즈 (chijeu)
one wan 원 (won) one wan 원 (won)
-er er 어 (ŏ) computer komputer 콤퓨터 (khomphyuthŏ)
-ar ar 아 (a) bar bar 바 (ba)
-et et 엣 (ét) at supermarket di supermarket 인터넷에서 (syuphŏmakésésŏ)
(ㅅ berbunyi ‘s’ jika diikuti huruf vokal)
-s s 스 (seu) bus bas 버스 (bŏseu)
(ㅅ berbunyi ‘t’ jika tidak diikuti vokal)
-d t 드 (deu) download donlot 다운로드 (daunlode)

Apabila sudah beberapa lama mendengarkan bagaimana orang Korea melafalkan bahasa Inggris, kita pun bisa meniru polanya supaya percakapan dengan mereka lebih mudah nyambung. Meskipun efek sampingnya pronounciation kita jadi terdengar aneh ketika bercakap-cakap dengan native speaker Inggris. Kalau pakai logat Sunda di telinga native speaker Inggris pun sebenarnya terdengar aneh juga sih.

Ketika bercakap-cakap dalam bahasa Korea, aku berusaha menyesuaikan pelafalan kata-kata Inggris dengan logat Korea. Ketika bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, pun aku menyesuaikan pelafalan kata-kata Inggris dengan logat Indonesia (tidak perlu pakai usaha kalau yang ini). Kalau bercakap dalam bahasa Inggris, logat manakah yang harus dipakai? Inggris? Amerika? Australia?

Intinya bukan soal logat mana yang lebih bagus, atau haruskah kita mengucapkan bahasa Inggris dengan logat British yang 100% mirip native. Namun bagaimana supaya orang yang mendengarkan mengerti apa yang kita bicarakan, bukan?