Hidup Sosial Tanpa Media Sosial: Bulan #2

Oke, ini merupakan postingan penutup dalam seri Hidup Sosial Tanpa Media Sosial. Sebuah tulisan refleksi sebagai kesimpulan setelah dua bulan menutup diri dari media sosial dan membuka diri untuk sosialisasi di dunia nyata.

Media sosial: antara butuh dan tidak butuh

Dua bulan ini membuat aku bisa memisahkan dua hal penting dari penggunaan media sosial: untuk selalu up-to-date akan segala hal yang diposting oleh “teman” di media sosial, dan untuk bisa tetap stay in touch dengan teman-teman yang tidak bisa kita jumpai di dunia nyata.

Aku butuh media sosial untuk bisa kontak dengan mereka yang tinggal di belahan lain bumi ini. Ada hubungan yang bisa dibangun dengan komunikasi personal via chatting. Ada juga interaksi yang bisa dibangun dengan berbagi cerita bersama via media sosial. Yang aku tidak butuh adalah News Feed, atau News Stream, atau apalah namanya itu. Yang selalu menarik perhatian dan memakan waktu berjam-jam untuk membaca dan me-scroll halaman berisi update mengenai berita terbaru, video lucu, meme, curhatan, foto makanan yang diposting oleh orang-orang yang tak ada habisnya. Belum lagi postingan sponsor alias iklan di sela-sela postingan lain.

Sialnya, semakin sering kita membuka media sosial, semakin terlena kita dengan news feed ini. Waktu habis memandangi media sosial tanpa benar-benar bersosialisasi. Karena aku tahu bahwa sumber pemborosan waktu adalah pada halaman news feed, maka lebih baik menghindari membuka halaman Home yang berisi news feed itu. Langsung saja menuju halaman profil, atau kunjungi profil teman. Sama persis seperti jaman aku pakai Friendster dulu.

Update terus

News feed di media sosial akan terus-menerus diperbarui, baik dibaca maupun tidak dibaca. Apalagi dengan ratusan “teman” yang terdaftar di profil kita, satu kali refresh halaman maka pof! postingan yang tadi terlewat sudah tak kelihatan lagi, jauh terdorong ke bawah halaman. Selama dua bulan tak memandangi news feed, aku menyadari ada pula update di dunia nyata sekitar kita yang terjadi terus-menerus, entah kita menyadarinya atau tidak.

Dalam dua bulan ini, hal-hal yang terjadi di sekitar aku di antaranya:

  • Musim hujan sudah tiba
  • Tahun baru!
  • Pergantian pengurus pengelola apartemen
  • Masa berlaku SIM sudah habis (dan diperpanjang)

Sedangkan untuk hal-hal yang terjadi pada orang-orang yang lebih dekat:

  • Krisis seperempat abad
  • Ada teman jadian
  • Seputar karir dan jalan hidup

Bagaimana dengan kabar-kabar yang lebih luas, seperti pencurian di bandara, kasus penunjukkan diri sendiri oleh SN, putusan pengadilan negeri Palembang yang memenangkan perusahaan yang didakwa sebagai pelaku pembakaran hutan? Oh tentu saja aku tak ketinggalan kabar seperti itu.

Media untuk berbagi kehidupan

Kini media sosial rasanya lebih banyak dipenuhi dengan satu atau beberapa jenis konten seperti ini:

  • Foto selfie
  • Foto makanan
  • Foto jalan-jalan (selfie juga)
  • Berita
  • Barang jualan
  • Spam, surat kaleng, atau MLM
  • Video atau gambar lucu
  • Undangan yang tidak spesifik
  • Iklan

Konten-konten di atas mungkin mendatangkan banyak like atau share, tapi tidak banyak membantu dalam meningkatkan hubungan yang akrab. Kalau ingin berbagi mengenai hal yang ada di pikiran, blog-lah tempatnya!

Ketimbang memposting konten untuk menarik perhatian orang kepada diri sendiri, rasanya jauh lebih bermakna bila memposting konten untuk memberi perhatian kepada orang lain, seperti:

  • Foto kegiatan bersama teman
  • Ucapan salam dan terima kasih
  • Hal-hal yang diminati bersama ditujukan spesifik kepada orang tertentu

Beberapa waktu lalu aku menghapus foto-foto dan video dari Facebook. Setelah lalu dua bulan, sebenarnya aku sedikit menyesal menghapusnya. Karena itu foto berisi kenangan yang dilakukan bersama-sama dengan teman. Aku masih punya fotonya di koleksi pribadi, tetapi kini sulit untuk berbagi kenangan dengan mengundang mereka datang ke rumah karena mereka berada di beda kota atau beda negara.

Hal di atas mungkin lebih spesifik untuk Facebook, karena tiap situs punya fungsinya masing-masing. Karena jejaring sosial Facebook menggunakan konsep hubungan mutual dan ditujukan sebagai media pertemanan, maka media ini lebih tepat untuk berteman.

Mungkin akan berbeda pada Instagram yang menggunakan konsep follower dan following. Jejaring sosial macam ini lebih seperti fan page. Kita tak perlu tahu siapa yang mengikuti update tentang kita. Ya, dan tentu saja postingan yang kita buat pun kurang lebih isinya seputar diri kita. Dan rasanya untuk hal ini wajar saja. Justru aneh dan agak menyeramkan kalau profil kita dipenuhi foto orang lain tanpa kita, apalagi kalau itu bukan artis atau orang terkenal.

Lain lagi dengan Twitter. Orang menyebutnya sebagai microblogging platform. Konsep jejaringnya serupa dengan Instagram, dengan follower tanpa harus follow back. Aku pribadi lebih suka menulis di blog ketimbang microblog (baca: Twitter), karena aku bisa leluasa mencurahkan isi pemikiran tanpa dibatasi 160 karakter, sekaligus mengasah kemampuan berbahasa.

Sosialisasi di dunia nyata

Ternyata tidak mudah dilakukan setelah lulus kuliah dan menginjak dunia kerja. Setiap orang kini punya kegiatannya masing-masing. Jadwal yang berbeda-beda ini membuat kesulitan ketika ingin merencanakan jalan, makan, atau main bareng teman-teman. Semakin banyak teman yang ingin dikumpulkan untuk jalan bersama, semakin kecil kemungkinan terlaksana. Di samping jadwal yang berbeda, tujuan dan arah setiap orang juga kini sudah berbeda. Lain halnya saat masa sekolah dulu, tujuan yang ditempuh kurang lebih sama: untuk belajar, untuk lulus, untuk refreshing dari tugas. Karena tujuan yang sedang ditempuhnya berbeda, maka ajakan untuk kopi darat mungkin saja ditolak karena mereka sedang mengejar hal lain yang lebih prioritas dalam hidupnya. Karena aku pun demikian.

Meskipun demikian, memberi waktu untuk berjumpa atau hangout di darat adalah hal yang layak untuk diusahakan.

Kesimpulan

Sekalipun tidak mustahil untuk memilih hidup tanpa media sosial sama sekali, tetapi keputusanku adalah untuk kembali memakai media sosial dengan membatasi fungsinya sebagai alat berkomunikasi ketimbang sebagai bagian besar dari kehidupan sosial.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial: Bulan #1

Akhirnya seri hidup sosial tanpa media sosial ini hampir melewati masa satu bulan. Dari selama ini ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan sejauh ini.

Hidup tanpa media sosial tidaklah mustahil.

Nyatanya, aku tidak kehilangan apapun oleh karena aku tidak buka Facebook atau Twitter. Malah aku merasa ketinggalan informasi terbaru tentang orang lain adalah hal yang bagus. Dengan begitu, aku bisa punya topik untuk berdialog dengan orang lain. Menanyakan bagaimana kabarnya karena aku memang tidak tahu, bukan pura-pura tidak tahu. Dan gestur yang ditampilkan pun akan terlihat sebagai orang yang tertarik dengan lawan bicaranya. Bukankah orang akan lebih merasa dihargai dengan sikap demikian? Ketimbang menanyakan kabar tapi bahasa tubuhnya menunjukkan tidak tertarik (karena sudah tahu kabarnya dari Facebook) sehingga kata-kata yang diucapkan jadi seperti basa basi saja.

Media sosial bukanlah media massa. Kepribadian setiap orang memang berbeda-beda. Mungkin ada orang yang suka apabila dirinya populer. Memposting sesuatu dan menerima ratusan jempol. Namun tidak demikian dengan aku. Ketimbang menyampaikan sesuatu kepada khalayak ramai, aku lebih peduli dengan siapa aku menyampaikan sesuatu, dan apakah itu sampai kepada mereka. Menyampaikan sesuatu kepada satu dua orang, sekalipun materinya sama, namun mereka boleh merasa dihargai karena kita menyampaikannya secara khusus bagi mereka. Demikian pula sebaliknya.

Apalah artinya 5000 teman di dunia maya tanpa kita tahu persis siapa yang benar-benar peduli dengan diri kita yang sesungguhnya diluar apa yang diunggah di media sosial. Dan apa pula artinya 5000 teman tanpa ada satu pun yang bisa kita berikan perhatian dan dukungan lebih dari sekedar ucapan “selamat” atau “semangat”.

Hidup tanpa media sosial adalah hidup di kenyataan.

Oke, tidak semua orang juga suka hidup dalam kenyataan. Tapi dengan mematikan layar ponsel (atau tab, atau laptop, atau apalah itu) dan menaruhnya di kantung, kita membuka diri untuk berinteraksi dengan sekitar kita.

Pengalamanku bereksperimen dengan ponsel adalah ketika mengheningkan cipta dengan layar ponsel menyala, maka orang-orang di sekitar akan cenderung mengabaikan keberadaan diri ini. Bisa jadi karena mereka menangkap sinyal bahwa kita tertutup dan tidak ingin diganggu. Tapi sebaliknya saat ponsel kita matikan dan dengan wajah santai memandang sekitar, maka terjadi lebih banyak interaksi sekalipun aku bukan yang memulai mengajak bicara. Sesekali orang yang lewat berlalu sambil melemparkan senyuman atau salam. Sesekali orang yang lebih ekstrovert menyempatkan diri untuk singgah dan berbincang-bincang. Kalau ada dua orang yang “celingukan” tanpa ponsel, maka besar peluang untuk mulai berbicara.

Dalam satu bulan terakhir ini highlight kegiatan aku tidak jauh dari rumah, SCBD, dan KCC. Mengerjakan proyek, belajar flute, gayageum, dan bahasa Korea, di samping menghadiri resepsi pernikahan. Meski demikian, aku bisa mengingat lebih banyak momen yang terjadi ketimbang di bulan-bulan sebelumnya. Dengan membatasi diri dari akses ke media sosial, maka aku dipaksa untuk meresapi momen demi momen sepenuhnya. Merekam momen-momen mempelai wanita memasuki ruangan dengan tarian, disambut oleh mempelai pria dengan wajah bahagia. Merekam lantunan lagu medley yang dipentaskan dengan merdu oleh Yerang di Depok. Merekam perjalanan sosial dalam sebuah bus, yang terasa seperti karyawisata anak sekolahan. Bahkan hal-hal yang kecil seperti makanan yang super pedas, jari teman yang luka saat main gayageum, nuna yang mencoba mengepang rambut, seorang teman yang menceritakan hari pertama turun salju di Korea setelah musim gugur, dan lain-lain. Sekalipun hanya beberapa foto yang diambil, namun satu foto pun akan cukup untuk memutar kembali cuplikan peristiwa yang terekam baik dalam benak di tahun-tahun mendatang.

Ketika kita melakukan perjalanan liburan atau suatu kegiatan, janganlah sibuk menceritakan betapa mengesankannya kegiatan yang kita lakukan, lalu lupa untuk menikmati kegiatan itu sendiri. Enjoy the moment. Biar kegiatan yang mengesankan itu tidak hanya muncul di timeline media sosial, mendapat ratusan like, lalu hilang ditelan bumi. Biar kesan itu terekam dengan baik dalam benak yang mampu kita kisahkan kembali kepada anak cucu kita.

Hidup tanpa media sosial adalah menjadi diri sendiri.

Ketika memposting sebuah foto atau status kita di media sosial dan mendapat banyak like, ada rasa senang atau bangga dalam diri kita. Namun sadar tidak sadar apabila terlalu banyak mengonsumsi media sosial, justru hal ini malah mempengaruhi penilaian kita terhadap harga diri sendiri. Harga diri ditentukan oleh jumlah like.

Lalu kita melihat-lihat postingan orang lain yang menampilkan fotonya selalu berada di negeri yang berbeda. Oh betapa asyiknya jadi dia bisa bepergian ke luar negeri. Sedangkan aku masih di sini, terbelenggu di kantor. Atau melihat orang yang memposting fotonya dengan bentuk tubuh yang ideal. Oh kapan ya aku bisa punya tubuh ideal begitu.

Akhirnya kita punya ekspektasi yang tidak rasional terhadap diri sendiri.

Tanpa media sosial, kita tidak terintimidasi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain, dipusingkan oleh apa yang dikomentari oleh orang lain (yang mungkin komentarnya saling bertentangan satu sama lain). Kita bisa bebas menjadi diri sendiri, berusaha menggapai mimpi yang kita miliki, dengan pergerakan yang sesuai dengan laju hidup kita.

Hidup tanpa media sosial tidak harus tanpa media sosial.

Setelah menjalani satu bulan tanpa media sosial, aku mulai mencurigai masalah utama dari media sosial yang banyak terjadi belakangan ini bukan pada media sosialnya, tetapi pada fitur timeline, home feed, atau sejenisnya. Yaitu halaman yang mengagregasi postingan terbaru dari teman-teman dalam jejaring sosial. Selain menghabiskan waktu, membuat kita kepo, mengurangi interaksi yang personal dengan orang yang bersangkutan, halaman agregasi ini juga diperparah dengan algoritma yang dibuat untuk memilah-milah postingan siapa dan bagaimana yang lebih banyak ditayangkan sesuai dengan kepribadian kita, atau lebih tepatnya sesuai dengan apa yang dianggap oleh program sesuai dengan kepribadian kita berdasarkan pemantauan terhadap gerak-gerik kita di media sosial.

Kalau kita masih ingin membuka media sosial, maka halaman yang paling perlu untuk dijauhi adalah halaman home atau news feed. Langsung saja buka halaman profil diri sendiri, atau kunjungi langsung halaman profil teman yang ingin kita lihat. Bukan hanya kita terbebas dari buang-buang waktu menelusuri seabreg postingan tidak relevan, tapi juga kita bisa melihat postingan dari teman tersebut seluruhnya, tanpa ada yang terfilter oleh sistem karena dianggap tidak relevan dengan kepribadian kita. Sebagai bonus, kita juga terbebas dari keharusan membaca sisipan posting sponsor di antara sejumlah postingan yang ada di home atau news feed.

Ada postingan teman yang kita suka? Katakan dengan kata-kata. Tulis di kolom komentar, “Aku suka ini.” Maka tanda like kita akan lebih bermakna. Mereka bisa tahu bahwa kita memang suka dengan postingan mereka. Juga memungkinkan untuk berlanjut menjadi dialog melalui kolom komentar. Aku sudah menerapkan pola ini sejak kira-kira setahun yang lalu. Dan hasilnya pertemanan jarak jauh melalui dunia maya menjadi lebih akrab.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial: Minggu #2

Memasuki minggu kedua dari perjalanan hidup sosial tanpa media sosial, ada beberapa hal khusus yang aku lewati dalam masa-masa ini. Beberapa di antaranya berhubungan dengan kegiatan yang aku kerjakan.

Password Facebook

Karena tidak pernah logout dari Facebook, artinya aku tidak perlu login setiap kali membuka Facebook. Alhasil hampir setiap kali melakukan login, di perangkat lain misalnya, aku menggunakan fitur “lupa password” karena tidak ingat apa password yang digunakan. Ditambah lagi Facebook tidak membolehkan mengganti password dengan password lama, artinya, semakin sering lupa password, semakin banyak password lama yang tidak bisa digunakan. Jadi aku harus membuat password lain yang baru. Dan karena passwordnya baru dan jarang melakukan logout dan login, saat login berikutnya lagi aku sudah lupa lagi. Dan seterusnya.

Kini setelah melakukan logout setiap mengakhiri sesi dan beberapa kali login untuk mencari sesuatu yang akan diceritakan berikut ini, akhirnya aku bisa ingat apa password Facebook yang aku pakai.

“Terpaksa” buka Facebook

Saat membuat sebuah kerajinan tangan, aku perlu membuka-buka koleksi foto untuk mengambil beberapa gambar. Karena tidak dapat gambar yang cocok, aku coba cari di Instagram. Masih tidak dapat juga, aku “terpaksa” membuka Facebook dan login. Saat membuka ini, aku hanya mengecek isi dari salah satu page saja. Ternyata dari sini aku mengetahui salah satu tips bagi yang ingin buka Facebook tanpa menghabiskan waktu: yaitu dengan tidak membuka news feed.

Media sosial tanpa news feed

Apa yang membuat pengalaman menggunakan media sosial kini berbeda daripada lima tahun silam? Salah satu alasan terbesar adalah karena evolusi news feed. Awalnya news feed dibuat hanya semacam daftar update yang dilakukan oleh teman-teman sehingga kita bisa langsung tahu hal-hal baru yang dilakukan oleh teman di media sosial tanpa harus mengujungi halaman profilnya terlebih dahulu.

Nah dalam perkembangannya, news feed ini juga disisipi iklan. Dan seiring dengan semakin banyaknya jaringan pertemanan di media sosial, kini menampilkan semua update dari semua teman akan terlalu banyak. Karena itu media sosial (baca: Facebook, medsos lainnya mungkin iya, mungkin tidak) melakukan filter berdasarkan algoritma profiling terhadap aktivitas kita. Teknik profiling ini tentu bukan tanpa kekurangan. Namun itu tidak akan dibahas di sini, silakan lihat-lihat blog lain yang pernah membahas soal ini, ada cukup banyak pembahasan di Internet.

Nah, walaupun sudah dilakukan filtering, tetap saja akan memakan waktu untuk mengonsumsi seluruh update yang disajikan di news feed. Dan lagipula dari seluruh update itu, berapa banyak kiriman dari orang-orang atau mengenai hal-hal yang kita peduli? Jadi masalah waktu yang habis tebuang banyak ada pada fitur news feed ini.

Jika kamu masih ingin menggunakan media sosial, stay up to date dan stay in touch dengan teman-teman jarak jauh, sebagaimana fungsi media sosial pada hakikatnya, tapi tidak ingin menghabiskan waktu gara-gara membuka media sosial, maka tipsnya adalah dengan tidak membuka news feed. Sebagai pengganti, bisa dengan cara melakukan bookmark profil-profil yang memang ingin kita ikuti. Cara jadul berselancar di Internet.

Keinginan buka Facebook

Setelah dua minggu aku tidak berkeinginan untuk buka Facebook dalam rangka baca-baca apa yang dilakukan orang lain. Ada keinginan untuk buka Facebook, Instagram, dan yang lainnya, tetapi itu bertepatan dengan kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman di dunia nyata. Atau ketika mendapat kabar dari teman melalui japri kalau mereka baru saja memposting kegiatan bersama. Jadi kini sudah mengarah pada berbagi pengalaman bersama.

Lebih banyak menulis blog

Mengakhiri bulan November, bulan ini menjadi bulan dengan tulisan blog terbanyak sejak 2008. Daripada melulu mengkonsumsi konten dari Internet, lebih baik kalau kita juga turut menghasilkan konten di Internet.

Target berikutnya

Sejak awal tujuan seri ini bukanlah untuk 100% berhenti menggunakan media sosial karena aku pun punya teman-teman jarak jauh. Karena itulah aku tidak menghapus akun. Tujuannya adalah untuk tidak menghabiskan waktu dan untuk mengembalikan fungsi media sosial sebagai media penghubung dengan teman-teman secara pribadi.

Ketika aku login ke Facebook untuk mencari bahan kerajinan tangan, sekilas aku membaca komentar dari beberapa orang menanyakan nomor telepon supaya bisa tetap berhubungan, atau dengan nada bercanda mengajak bertemu di Bandung (padahal tinggal di beda benua). Ini adalah salah satu pintu pembuka untuk percakapan pribadi, lebih dari sekadar baca dan like. Dan itu adalah salah satu tujuan awalku melakukan ini semua.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial: Minggu #1

Dalam perjalanan menempuh hari-hari tanpa media sosial, aku mulai menyadari beberapa hal yang terjadi dalam seminggu pertama ini.

Kebiasaan membuka Facebook

Setiap kali menyalakan komputer dan membuka browser, maka entah disadari atau tidak kursor mouseku dengan lincah mengeklik bookmark untuk mengakses Facebook. Ternyata alur untuk membuka Facebook sudah begitu terekam dalam memori otot tanganku. Dan dorongan untuk melihat Facebook masih cukup terasa. Selalu ada dorongan penasaran, “Apakah ada komentar baru?”, “Apa yang sedang ramai di Facebook?” Tapi cuma sampai situ saja. Kursor mouseku berhenti di atas pilihan bookmark. Twitter? Instagram? Kursor mouseku berputar-putar diantara pilihan itu untuk beberapa saat. Aku tidak mengekliknya.

“Kehilangan” kabar

Bagaimana kabar ci Ay setelah terakhir berjumpa di Bandung? Atau Bernard dalam petualangannya mendapatkan gelar pascasarjana? Atau Monica si teman seperjuangan dulu dan sekarang? Sepertinya aku tidak tahu lagi kabarnya. Padahal memang aku tidak tahu kabarnya dari Facebook dan tidak menanyakan juga kabar mereka melalui Facebook. Hanya melihat News Feed yang berisi postingan dari berbagai teman dengan nama dan foto terpampang di bagian atas kotak putih berisi postingan. Itu pun kebanyakan postingan berisikan tautan surat kabar dan sebagainya.

Kabar dari kawan-kawan yang aku tahu justru bersumber dari percakapan langsung melalui chatting dan tatap muka. Dan kini setelah aku tidak membuka media sosial, kabar dari kawan-kawan yang aku tahu pun tetap bersumber dari percakapan langsung melalui chatting atau berjumpa muka dengan muka.

Dalam kedekatan hubungan, tidak ada kabar yang lebih penting dari kabar pribadi. Kabar mengenai isu-isu sekitar bisa selalui diperoleh dari surat kabar.

Menghabiskan waktu yang tak habis

Tanpa adanya media sosial yang perlu dibuka dan dibaca, aku seperti kebingungan akan apa yang ingin aku lakukan di depan layar komputer (selain mengerjakan kerjaan). Maka tidak jarang aku mematikan komputer saja dan melakukan hal lain.

Masalahnya, hal lain apa yang ingin aku lakukan tanpa komputer?

Oke, sekarang aku sudah punya daftarnya: masak, menyapu, ngepel, mencuci kamar mandi, menyampul buku, menyusun rak buku. Terdengar cukup melelahkan ya.

Bahkan setelah melakukan itu pun waktunya masih bersisa. Hanya tenaga yang sudah habis karena kegiatan yang menguras tenaga fisik.

Porsi tulisan blog meningkat

Aku menghitung satu, dua, tiga, … sembilan tulisan baru aku terbitkan di blog dalam seminggu terakhir ini. Perbedaan jumlah tulisan yang drastis dibandingkan bulan-bulan atau tahun-tahun sebelumnya. Menulis blog ini bisa jadi sebagai pelarianku selama duduk di depan layar komputer. Dan aku menganggap ini sebagai hal yang positif.

Mungkin saja ke depannya jumlah kiriman tulisan tidak akan sebanyak minggu ini apabila aku sudah membagi waktu untuk kegiatan yang lainnya. Tapi tidak apa, karena itu artinya aku sedang mengerjakan hal-hal yang ingin aku lakukan untuk menggapai mimpi-mimpiku.

Jadi, kalau disimpulkan dalam sebuah pertanyaan, bagaimana perasaanku terhadap media sosial? Maka aku merasa ingin membuka media sosial, lalu aku membayangkan seperti apa rasanya membuka media sosial, lalu aku jadi merasa tidak ingin membuka media sosial. Aku merindukan pengalaman media sosial tahun 2008-an, tapi karena kini sudah berbeda dan tidak nampak ada harapan untuk kembali, biar itu menjadi kenangan.

Bersih-Bersih Timeline Facebook

Hari ini diisi dengan bersih-bersih timeline/wall Facebook, sebagai bagian dari seri Hidup Sosial Tanpa Media Sosial. Maksud dari bersih-bersih ini ialah untuk mendefinisikan kembali fungsi timeline sebagai wall untuk bercakap-cakap dengan teman melalui Facebook. Kira-kira seperti kolom testimonial di jaman Friendster, atau wall Facebook tahun 2008-an.

Saat ini timeline lebih banyak dipakai sebagai media siaran, untuk share segala macam foto, link, status. Artinya apa? Artinya fokus timeline adalah all about me. Ya, memang benar sih. Tapi kan kita tidak perlu menyiarkan semua tentang diri sendiri, kecuali kalau kamu itu selebriti. Bahkan tidak jarang orang memanggil orang lain melalui timeline sendiri. Jadi bukan dengan memposting di timeline orang tersebut. Kalau timeline diibaratkan sebagai rumah, maka kita memanggil teman kita menggunakan toa (pengeras suara) dari rumah sendiri, bukannya datang menghampiri rumah teman.

Karena sudah begitu banyak postingan di timeline selama bertahun-tahun, maka cukup sulit memilah postingan mana yang ingin dibuang dan mana yang ingin disimpan. Mungkin akan ada yang tidak sengaja terbuang, tapi biar sajalah. Toh tidak ada yang “penting” di Facebook.

Aku memilah postingan di timeline menjadi 3 jenis:

  • Postingan isu dan minat dari diri sendiri, seperti link berita, update status, gambar, foto. Dihapus.
  • Postingan/tag dari orang lain yang tidak ada perlu, seperti iklan, kontes, game request, tag foto yang aku tidak ada di dalamnya. Dihapus / untag.
  • Postingan dari orang lain yang spesifik ditujukan untuk aku, seperti link atau foto mengenai minat bersama, perbincangan kabar, ucapan salam. Disimpan.

Postingan itu dihapus atau disimpan sesuai dengan definisi wall yang aku buat untuk penggunaan media sosial.

Setidaknya dengan begini aku bisa mengembalikan fungsi media sosial sebagai media sosial. Karena media sosial itu ya hanya sebuah alat, sama seperti uang hanya sebagai alat. Perihal alat itu memberi kebaikan atau keburukan tergantung pada penggunanya. Dan beginilah aku menggunakan media sosial.

Kini, setelah timeline dibersihkan dan aku logout dari Facebook, maka waktunya menjalani perjalanan yang sesungguhnya!

Menghapus Foto dan Video dari Facebook

Sebagai kelanjutan dari seri Hidup Sosial Tanpa Media Sosial, aku mencoba untuk menghapus seluruh konten yang “tidak sosial”. Menghapus video, terutama foto, memiliki tantangan sendiri. Foto-foto yang diposting memiliki nilai nostalgia, terutama foto yang berisi komentar. Kalau begitu mengapa dihapus juga? Karena aku mengharapkan kita bisa saling berbagi kisah, termasuk nostalgia, di dunia nyata.

Menghapus Video

Karena aku tidak pernah memposting video, bagian video di Facebook ini hanya berisi video orang yang di tag. Kebanyakan tidak ada hubungannya sehingga aku dengan mudah menghapusnya.

Menghapus Foto

Ternyata menghapus foto-foto lama dari Facebook tidak semudah yang dikira. Foto-foto ini berisi komentar-komentar sehingga memiliki nilai nostalgia. Aku mengalami dilema. Memang sedih rasanya menghapus komentar-komentar dan foto-foto bersama sahabat. Tapi hubungan kita lebih daripada apa yang tertulis di Facebook.

Keesokan harinya menghapus foto-foto berasa lebih mudah. Dengan semangat “aku ada foto-fotonya dan kita bisa hubungi orang-orang yang terekam di dalamnya kapan saja via japri” maka satu per satu album aku hapus tanpa perlu membaca isi komentar.

PS: Aku masih menyimpan foto-fotonya kok. Untuk teman-teman yang mau silakan kabari, nanti aku kirimkan spesial untuk kamu. Atau boleh main kemari, kita bernostalgia bersama!

 

Unlike Everything

Dari manakah media sosial mendapatkan keuntungan? Ya, sebagian besar adalah dari iklan. Mengapa iklan di media sosial, sebut saja Facebook, begitu laris? Selain karena penggunanya yang begitu banyak, alasan lainnya adalah karena iklan tersebut bertarget. Iklan yang muncul di halaman Facebook kita sudah disesuaikan dengan minat dan kepribadian kita. Bagaimana mereka mendapatkan itu semua? Dengan melakukan analisis terhadap aktivitas kita di media sosial. Salah satu aspek yang mudah digunakan untuk analisis adalah tombol “like”. Elan Morgan pernah membahas dan bereksperimen terhadap fitur like ini, dan hasilnya cukup mengejutkan, baik dari aspek iklan, maupun hubungan sosial.

Kira-kira setahun yang lalu aku pun melakukan hal yang sama. Aku me-unlike semua like yang ada (terima kasih kepada fitur Activity Log-nya Facebook) dan berhenti me-like konten apapun.

Selain like posting, aku juga me-unlike semua page dan minat di halaman About. Music, book, artist, causes, semuanya.

Setelah me-unlike semua yang pernah di-like di Facebook, isi News Feed berubah drastis. Kini muncul postingan-postingan dari orang-orang yang sebelumnya jarang berinteraksi dan jarang muncul dalam News Feed. Selain itu, isi News Feed pun jadi lebih beragam.

Di samping perubahan secara teknis, perubahan yang lebih penting pun terjadi. Ketika aku menyukai sebuah postingan, aku memaksakan diri untuk memberi komentar, bukan memberi like. Kalaupun tidak ada yang ingin dikomentari, ungkapkan saja “Suka!” melalui kata-kata. Dan hasilnya? Beberapa komentar pun dibalas oleh yang empunya posting. Artinya interaksi sosial di Facebook kini sudah meningkat ke level yang lebih interaktif.

Untuk menghindari keinginan menekan tombol like, aku menyisipkan CSS di browserku untuk menghilangkan semua tombol like. Jadi aku hanya bisa memberi komentar atau share saja.

Belakangan Facebook mengubah kembali layoutnya, sehingga CSS yang aku punya tidak lagi berfungsi. Tombol like muncul lagi. Namun karena sudah beberapa waktu berlalu dan aku sudah membiasakan diri memberi komentar, maka tidak ada lagi dorongan untuk mengeklik like, di Facebook maupun di media sosial lainnya.

Untuk kamu yang suka update di Facebook, suka membaca postingan-postingan teman agar bisa terus stay in touch, namun merasa sulit menjadi akrab karena tidak ada interaksi selain like, cobalah berhenti menekan tombol like, dan ganti dengan mengetik “suka!”

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial

Aku termasuk sebagai pengguna media sosial di masa-masa awal. Kala itu media sosial masih sebatas memajang profil dan saling berkomentar mengenai si empunya profil. Sebut saja Friendster dan MySpace contohnya. Kehidupan masih terpisah dari dunia maya. Hubungan sosial jarak jauh pun terjalin melalui telepon, SMS, dan chatting. Kita saling “update”, bertukar kabar dan momen-momen yang terjadi di sekitar kita. Senang rasanya bisa berbagi cerita dan mengetahui bahwa ada yang peduli dengan kita dan sebaliknya. Begitu personal.

Namun tren media sosial berangsur-angsur telah berubah. Kini realitanya media sosial sudah lebih banyak menjadi media marketing. Sosialisasi yang dulu sifatnya lebih pribadi kini telah menjadi dangkal sedangkal basa basi. Tujuan semula media sosial yang “menghubungkan kita dengan teman dan keluarga” kini malah lebih banyak “menghubungkan kita dengan berita dan isu terkini”. Berita soal politik, berita soal video kucing imut, berita soal liburan orang lain ke luar negeri. Aku pun sudah merasakan ini sejak beberapa tahun terakhir. Karena itu aku memutuskan untuk berhenti menggunakan media sosial dan kembali ke metode lama dalam bersosialisasi: kopi darat dan berbincang via japri.

Hidup Sosial Tanpa Media Sosial

Blog ini mengawali seri blog “Hidup Sosial Tanpa Media Sosial”. Dalam seri ini aku akan menuliskan perjalanan aku untuk mengembalikan kehidupan sosial tanpa media sosial seperti sekarang ini, yaitu melalui metode yang benar-benar “menghubungkan kita dengan teman dan keluarga”.

Meski demikian, sebagai orang yang berkecimpung di dunia IT, aku tidak bisa begitu saja memutus ikatan dengan media sosial. Karena sebagian dari pekerjaan yang aku buat terintegrasi dengan media sosial. Ditambah dengan majunya perangkat mobile dan jaringan internet, semakin sulit untuk tidak menggenggam ponsel dan login ke media sosial.

Saat ini ada cukup banyak akun media sosial yang aku punya. Untungnya beberapa akun aku buat baru-baru ini setelah aku berniat untuk berhenti menggunakan media sosial. Jadi tidak ada postingan apapun di akun-akun tersebut, dan tidak ada daya tarik untuk memposting apapun. Aku memang sudah memulai proses “disengaging social media” sejak beberapa tahun silam. Namun masih banyak waktu yang terbuang karena membuka media sosial di waktu ini dan itu. Belum sepenuhnya terputus.

Tujuan berhenti menggunakan media sosial antara lain:

  • Mengembalikan waktu yang terbuang yang dapat digunakan untuk kegiatan lain.
  • Mengembalikan sosialisasi ke level yang lebih personal.
  • Menikmati momen-momen yang lebih nyata di dunia nyata.
  • Mendefinisikan ulang fungsi media sosial sebagai aplikasi, bukan bagian dari hidup.

Karena itu fokus usaha yang dilakukan adalah dengan berhenti membuka update stream yang menghabiskan banyak waktu. Untuk postingan yang lampau, aku juga berniat untuk menghapusnya sehubungan dengan penggunaan data untuk iklan target dan profiling. Dan yang tak kalah penting, yaitu membuka kembali jalur sosial yang lebih nyata.

Social Media is Anything but Social

There have been numerous posts of this kind around the web. And you might have read one too. The social media we know today is so much different than what it is like before, or at least around 2000s when I embraced the internet and social media. Once it was a good way to connect socially. By connecting socially, I mean being engaged in bidirectional conversations.

Stay out of touch

Early social media allows us to keep in touch with distant friends and old friends. When I moved from my hometown to Jakarta for pursuing bachelor degree, I was far from my friends. Fortunately, I was already in the era of internet and instant messenger. And it was a great time that we usually signed in on Yahoo and MSN messenger and waited for friends popping up on screen. We chatted about just anything which came up on mind. From weather to food, from homework to lecturer to gossip. We kept in touch. We had great times.

When I was bored, sometimes I just chat random friends and ask how they were doing. And they would share excitements they encountered during the day, or a few bad stuffs or good stuffs. It worked vice versa. When somebody asked me how I was, I was happy to share my moments with fellow friends and know that there were people who care. Of course the depth of moments shared depended on the level of relationship. We may choose to share this with close friends, and share something else with someone else, or not to share at all even if asked by others.

The term “share” that we often hear, or read, or click, nowadays is not the same thing as what I understand years ago. Sharing a moment, a photo, a link, up on Facebook is personal, but not social. When we share something up, we don’t know who cares about us. Indeed there could be “likes”, but it’s just a click of a button. There could be comments, but let’s count how often you got engaged in conversations with them. Oftentimes when a person commented on your post and you replied it, the conversation ended there, except from people you are close to, whom you already connected with in real life, or via other telecommunication media.

With the ease of sharing filtered moments online, the value of keeping in touch with friends have been degraded to being a stalker. What would you say to initiate a conversation to get in touch with your friends? When everything is already shared on their wall, it becomes kind of pointless to ask “how are you?” unless they are really close with you to share what’s not on their profile. There’s nothing else to say. You already know what they are doing, and they also know that you already know the answer. Since people already posted moments of their life online, and we are not really that close with them to ask for something else more than what’s already posted online, what other topics would we talk about to get in touch with them? Politics? Money? Movies? Nah. Nurturing relationship is by sharing moments of life, which apparently already shared with social media.

Share the moment by ruining your moment

Check your social media updates stream. You might see people are sharing their moments. This is the trend. When we are in a party, we are capturing the moment, filtering it, and thinking of a catch phrase to be posted online. When we are having a holiday, we can’t wait to post the photographs and share the awesome places we have been. But the worst thing is that we often too busy sharing the moment and forgot to present in the moment.

The F.O.M.O syndrome

On the other hand, we constantly check social media updates stream to stay updated with what friends are doing. This leads to a real syndrome now called F.O.M.O (the fear of missing out). Yet no matter how much we keep updated, we will always be missing out something. You might think reading Facebook streams lets you know all the news about your friends. But it’s not. Facebook chooses what they want to show you. About half of the posts you see are old posts. And the new posts you see is not them all. So you are actually missing out. Moreover, most of those posts are from pages, not friends.

When we are reading posts shared by others, the more we know what others are doing, the more we feel miserable. The time we browse through social media feed the most is when we are bored. So we are comparing our downs with others’ ups. Then seeing friends doing stuffs without us makes us feel left out. The platform which intent is to be a social media in reality has become a life comparation media.

Quitting social media

The answer to this is so simple yet so hard. It’s like an addiction. But if you are like me, let’s engage more in real life and live a life that is real!

Mengumpulkan Potongan Blog

Setelah 6 tahun sejak aku pertama kali menggunakan social media (dan nge-blog!) rupanya sudah cukup banyak online provider yang aku pakai. Penyedia-penyedia layanan datang dan pergi silih berganti. Dan kini aku baru saja selesai mengumpulkan serpihan-serpihan tulisan yang berserakan di jagat internet. Akhirnya aku memutuskan untuk memindahkan semuanya ke Blogspot, layanan blog yang masih eksis sampai sekarang.

Friendster

Friendster ini layanan yang pertama aku pakai saat awal-awal mengenal jejaring sosial di Internet sekitar tahun 2006-an. Masih belum mengenal blog. Posting di Friendster hanya sebatas berkirim testimonial saja (seperti guest book). Interaksi sosial di dunia maya masih lebih banyak menggunakan group SMS, dan instant messenger yang cukup populer di masa itu, Yahoo! dan MSN Messenger. Di tahun 2008-an Friendster menyediakan layanan semacam blog, yaitu bulletin board, yang mana di lingkungan aku penggunaannya hanya sebatas berkirim surat kaleng.

Multiply

Multiply merupakan salah satu jejaring sosial favorit aku, karena halaman profil di Multiply bisa di-customize sesuka hati dengan CSS dan HTML. Selain itu, kontennya lebih bervariasi dan tersusun rapi. Ada halaman profil, galeri foto, blog, dan sebagainya. Setiap postingan juga bisa dikomentari. Multiply ini bisa dibilang sebagai sarana blogging aku pertama kali.

Facebook

Pada tahun 2008 Multiply sempat diblokir di seluruh Indonesia karena sebuah kasus video kontroversial di YouTube. Kala itu aku mencoba Facebook yang memiliki fitur seperti Multiply, yakni bisa memposting beragam konten. Hanya saja, Facebook tidak bisa di-customize dengan CSS. Saat itu kustomisasi halaman profil dengan CSS (dan gambar-gambar GIF dan widget HTML) sangat tren sehingga Facebook tidak banyak penggunanya, setidaknya tidak banyak pengguna yang aku kenal. Karena tidak banyak teman yang menggunakan Facebook, maka aktivitas jejaring sosial aku masih lebih banyak di Friendster.

Blogspot

Tapi blogging di Facebook tidak senyaman Multiply. Maka aku mencoba-coba layanan blogging yang ada, termasuk Blogspot dan WordPress. Tapi Blogspot lebih mudah dipakai. Lantas beralihlah aku ke Blogspot dan blogging (walaupun tidak sering) di Blogspot selama 2 tahun.

WordPress

Setelah lebih mahir dengan dunia per-blog-an, aku mencoba kembali WordPress, dan merasakan bahwa WordPress jauh lebih komplit fiturnya. Hanya saja karena aku menggunakan WordPress.com, blog aku tidak bisa di-customize menggunakan tema sendiri, serta beberapa keterbatasan lainnya. Sejauh ini aku sudah cukup banyak mengutak-atik web menggunakan JavaScript, dan rupanya WordPress.com tidak membolehkan JavaScript. Aku menggunakan WordPress tidak cukup lama, sebelum kembali ke Blogspot karena masalah keterbatasan tadi.

Sekarang

Dan sekarang, aku masih menggunakan Blogspot, namun dengan custom domain. Berhubung nasib Multiply dan Friendster yang sudah tidak ada lagi, dan seluruh kontennya pun hilang, aku pun mempertimbangkan untuk menginstall WordPress di server sendiri. Tapi berhubung Blogspot ini merupakan layanan milik Google yang sudah beroperasi sejak lama, rasanya tidak apalah jika aku tetap memakai Blogspot sebagai sarana blogging untuk beberapa tahun ke depan. 🙂